Selasa, 27 Januari 2015

DAKWAH DAN KELAS SOSIAL



I.       PENDAHULUAN
Bila kita mengamati orang-orang di masyarakat dengan cermat, sering kali kita melihat bahwa orang-orang tersebut saling berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain, di dalam berbagai hal perbedaan ini berupa perbedaan fisik, perilaku, gaya hidup, cara berpakaian dan sebagainya.  Perbedaan atau persamaan yang kita amati tersebut pada umumnya berhubungan erat dengan perbedaan latar belakang sosial, budaya dan lingkungan alamiah tempat mereka hidup muncul pula berbagai gejala lapisan masyarakat ataupun dengan istilah kelas sosial.

II.    PEMBAHASAN
  1. Pengertian Kelas Sosial
Para sosiolog umumnya juga menggunakan kelas sosial dengan arti yang sama dengan status ekonomi sosial. Keduanya saling dipertukarkan atau dipakai sekaligus bersama-sama. Pada prinsipnya kelas (social class) adalah penggolongan manusia yang tidak terang batas-batasnya dan hanya memperlihatkan keadaan-keadaan milik atau penghasilan daripada persekutuan / tindakan bersama.[1]
Sering juga kita mengklasifikasikan orang-orang ke dalam beberapa kategori yang lebih bebas misalnya golongan atas, golongan menengah dan golongan  rendah. Dan menurut filosof Aristoteles mengatakan di dalam suatu masyarakat terdiri atas tiga golongan, kelas kaya, kelas menengah, kelas miskin.[2]
Pitirim seorang sosiologi berpendapat sistem lapisan mereka ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. Barang siapa yang memiliki sesuatu yang berharga dalam jumlah yang sangat banyak dianggap masyarakat berkedudukan dalam lapisan atasan. Mereka yang hanya sedikit sekali atau tidak memiliki sesuatu yang berharga dalam pandangan masyarakat mempunyai kedudukan yang rendah.[3]

  1. Aspek-aspek Kelas
Pelapisan sosial yang merujuk pada suatu hierarki yang berlapis atau berstrata dari suatu masyarakat. Lapisan atau hierarki yang dimaksud juga merujuk pada hal-hal atau keadaan yang berbeda-beda, dan perbuatan tersebut pada dasarnya bersumber pada pembagian yang tidak merata atau timpang atas daya atau sumber-sumber kekayaan, kekuasaan, hak dan prestise di kalangan anggota suatu masyarakat, terlepas dari pengertian merata yang kita sepakati. Max Weber melihat bahwa kekayaan, kekuasaan, prestise merupakan 3 faktor yang terpisah-pisah, namun saling berkaitan erat.
a.       Kekayaan
Dapat diberi definisi yang beraneka ragam sesuai dengan realitas sosial masing-masing kebutuhan. Dalam hubungannya pelapisan sosial, kekayaan dipahami para sosiolog sebagai suatu hak atau pemilikan orang lain atau yang dimiliki orang lain. Kekayaan juga dapat diterjemahkan misal, dengan uang seseorang dapat secara berarti meningkatkan atau memperbaiki statusnya.
b.      Kekuasaan
Merupakan kekuatan atau kemampuan seseorang untuk membuat orang lain atau sekelompok orang tunduk padanya.
c.       Prestise
Adalah suatu kehormatan yang diperoleh seseorang atau sekelompok orang yang biasanya dihubungkan dengan suatu peran tertentu atau jabatan tertentu.[4]

  1. Peran Dakwah dalam Kelas Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali seseorang itu, berdasarkan ukuran tertentu dianggap berkedudukan lebih rendah atau lebih tinggi dari semestinya. Dan keadaan demikian mengakibatkan ketimpangan atau kesenjangan sosial maupun kesenjangan status.
Misal saja seorang yang berpendidikan tinggi (sarjana) yang hanya bisa menemukan pekerjaannya sebagai supir taksi atau supir oplet, dan tanpa memberinya prestise yang terhormat, sebaliknya orang yang tidak mempunyai pendidikan formal yang tinggi, namun dapat mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat seperti halnya konglomerat kaya raya tidak berpendidikan mendapat prestise yang luar biasa dari masyarakat.
Peran dakwah di sini bukan hanya terletak pada usaha mengajar kepada keimanan dan ibadah saja, lebih dari itu dakwah adalah penyadaran manusia atas keberadaan dan keadaan hidup mereka.[5]
Dalam surat Al Hujurat ayat 13 dengan jelas mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal satu sama lain. Dan sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Walaupun keadaan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku dengan begitu banyak perbedaan tetapi Allah memerintahkan untuk saling berinteraksi agar saling mengenal, dan yang namanya perbedaan dalam kelas sosial ataupun status sosial seseorang tidak begitu berarti di mata Allah, hanya takwanyalah yang membedakannya.
III. KESIMPULAN
Di sini peran dakwah sebagai sarana untuk penyampaian pesan yang membawa perubahan pada diri individu maupun kelompok dalam menyikapi suatu keadaan. Dakwah seharusnya bisa meminimalisir keadaan pada  diri seorang yang pada konteks kelas sosial dan status sosial mengalami gejala kesenjangan sosial ataupun kesenjangan status yang mungkin membawa tekanan batin atau mental (mental stress) yang dapat melahirkan perilaku yang menyimpang bagi orang-orang yang mengalaminya.

IV. PENUTUP
Demikian makalah yang kami buat, kami menyadari dalam makalah kami begitu banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun kami harapkan. Semoga bermanfaat bagi pembaca.


DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi, Pengantar Sosiologi, Semarang, Ramadhani, 1974.
Soerjarno, Soekarno, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, PT Raja Grafindo, 1990.
Bahrein T, Sugitten, Sosiologi Pedesaan, Jakarta: PT Raja Grafindo, 1994.
Awaludin Pimay, Metodologi Dakwah, Semarang, Rasai, 2006.



[1] Abu Ahmadi, Pengantar Sosiologi, Semarang, Ramadhani, 1974, hlm. 82.
[2] Soerjarno, Soekarno, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, PT Raja Grafindo, 1990, hlm. 251.
[3] Ibid, hlm. 84
[4] Bahrein T, Sugitten, Sosiologi Pedesaan, Jakarta: PT Raja Grafindo, 1994, hlm. 143-145
[5] Awaludin Pimay, Metodologi Dakwah, Semarang, Rasai, 2006, hlm. 5

KEJUJURAN




بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَمّا بَعْدُ ...

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kita kehadirat Allah SWT, karena dengan hidayah, inayah serta ma’unahnyalah kita bisa berkumpul di majlis ini dalam keadaan sehat wal ‘afiat.
Kedua kalinya sholawat serta salam mari kita haturkan kepada junjungan kita nabi Agung Muhammad SAW, yang kita nanti-nantikan syafaatnya kelak di yaumul akhir, Amien,,,
Ibu-ibu jamah pengajian Masjid Al-Muhajirin yang dimuliakan oleh Allah, pada kesempatan di sore ini saya akan menyampaikan materi dengan tema “kejujuran”
Sebagaimana kita ketahui bersama, lisan merupakan salah satu nikmat Allah yang sangat besar dan salah menakjubkan. Kenapa demikian? Coba ibu-ibu perhatikan, lisan itu bentuknya kecil, tapi perannya sangat besar, dan bahkan kekufuran, ketaatan, kemaksiatan, keimanan dsb bisa diukur dan diketahui dengan jelas dengan persaksian lisan.
Lisan memang senang mengembara kesana dan kemari, dalam hal kebajikan dan kejahatan . Barangsiapa yang mengumbar lisannya dengan bebas dan tidak mau mengendalikannya, maka yang akan terjadi adalah setan akan menyeretnya kedalam jurang kehancuran, dan kemudian jatuh ke dalam kebinasaan.
Ibu-ibu yang saya hormati,,,
Sebelumnya apa yang dimaksud jujur itu? Jujur adalah ucapan yang benar dan sesuai dengan realita atau kenyataan. Allah berfirman dalam surat at-Taubah ayat 119
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصادقين
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”
Dari surat diatas dijelaskan bahwa Allah menyuruh kepada kita agar selalu bersama-sama orang benar, artinya kita senantiasa bersama mereka dalam iman mereka, bersama mereka dalam hijrah dan jihad mereka, bersama mereka dalam semua ucapan dan perbuatannya mereka, bersama mereka di dalam janji-janji dan perbuatannya, serta bersama mereka dalam kerahasiaan dan keterbukaan mereka.
Sesungguhnya kejujuran merupakan tanda - tanda keimanan dan kesucian jiwa serta pertanda dari keselamatan. Keujuran juga yang menunjukkan atas keindahan sifat dan ketinggan moral seseorang serta membentuk pelakunya cinta kepada Allah, cinta kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin, dan cinta pada dirinya sendiri.
Ibu-ibu yang dirahmati Allah,,
Seorang muslim harus jujur kepada 3 hal, yaitu :
1.      Jujur kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah hanyak kepada Nya, tanpa dibarengi riya` atau sum’ah, maka siapa yang melakukan amalan tanpa membenarkan niatnya kepada Allah, yakni tidak memurnikan untuk Nya maka amalannya tidak akan diterima. jadi, seorang muslim harus lah jujur kepada Allah dalam segala ketaatan dengan cara menunaikan apa yang menjadi kewajiban sebagaimana yang diperintahkan.
2.      Jujur kepada manusia, seorang muslim tidak berkata dusta kepada saudara muslimnya. Rasulullah bersabda “Sebesar-besar pengkhianatan adalah engkau berbicara kepada saudaramu muslim, dia mempercayaimu sedangkan engkau berkata dusta.” (HR. Ahmad).
3.      Jujur kepada diri sendiri, seorang muslim harus mengakui kesalahan dan kekurangan yang ada padanya kemudian berupaya memperbaikinya. ia harus tahu bahwa kejujuran itu adalah jalan keselamatan. Rasulullah bersabda “Tinggalkan apa yang membuatmu ragu kepada apa yang tidak membuatmu ragu, sebab kedustaan itu meragukan dan kejujuran itu menenangkan.”(HR. At-Turmudzi)
Allah memuji orang-orang yang jujur bahwa mereka itulah yang disebut dengan orang-orang bertakwa yang menjadi penghuni sorga, sebagai balasan atas kejujuran mereka. Allah berfriman dalam surat al- Baqarah : 177
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”
Kejujuran itu adalah ketenangan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Rasulullah e bersabda
“Perhatikanlah kejujuran, sekalipun menurut kalian ada kebinasaan, sesungguhnya kejujuran itu adalah keselamatan.”. (Ibn Abid Dun-ya)
Jujur merupakan sikap terpuji yang dianjurkan oleh agama, ia selalu bersanding dengan kebenaran yang harus dikawal dan ditegakkan, bahkan Allah SWT menyebut diri-Nya dengan Al-Haq yang artinya Maha Benar. Begitu juga para nabi dan Rasul-Nya selalu mempunyai sifat Ash-Shidq yang berarti jujur.Jujur mempunyai banyak manfaat dan khasiat bagi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat kelak. Manfaat bagi orang yang jujur dalam perkataan maupun perbuatannya adalah :
1.      Perasaan enak dan hati tenang, jujur akan membuat pelakunya menjadi tenang karena ia tidak takut akan diketahui kebohongannya. Rasul SAW bersabda, ‘’Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu, sesungguhnya jujur adalah ketenangan sedangkan dusta adalah keraguan.’’ (HR Turmudzi dari riwayat Hasan bin Ali).
2.      Mendapatkan keberkahan dalam usahanya. Hal ini tercantum dalam sebuah hadits, ‘’Dua orang yang berjual beli mempunyai pilihan (untuk melanjutkan transaksi ataupun membatalkannya) selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan barangnya maka akan diberkahi jual beli mereka, dan jika mereka merahasiakan dan berdusta maka dihilangkan keberkahan jual beli mereka.’’ (HR Bukhari)
3.      Mendapat pahala seperti pahala orang syahid di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, ‘’Barang siapa meminta mati syahid dengan jujur, maka Allah akan mengantarkannya ke dalam golongan orang-orang syahid, walaupun ia mati di atas kasurnya.’’ (HR Muslim) .
4.      Selamat dari bahaya. Orang yang jujur walaupun pertama-tama ia merasa berat akan tetapi pada akhirnya ia akan selamat dari berbagai bahaya. Rasulullah SAW telah bersabda, ‘’Berperangailah selalu dengan kejujuran! Jika engkau melihatnya jujur itu mencelakakan maka pada hakikatnya ia merupakan keselamatan.’’ (HR Ibnu Abi Ad-Dunya dari riwayat Manshur bin Mu’tamir).
5.      Dijamin masuk surga, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW, ‘’Berikanlah kepadaku enam perkara niscaya aku akan jamin engkau masuk surga: jujurlah jika engkau bicara, tepatilah jika engkau berjanji, tunaikanlah jika engkau diberi amanat, jagalah kemaluanmu, tundukkan pandanganmu, dan jagalah tanganmu.’’ (HR Ahmad dari riwayat ‘Ubadah bin Ash-Shamit).
6.      Dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda, ‘’Jika engkau ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tunaikanlah jika engkau diberi amanah, jujurlah jika engkau bicara, dan berbuat baiklah terhadap orang sekelilingmu.’’ (HR Ath-Thabrani). Demikianlah, jujur penting sekali, terutama di masa ketika segala aspek kehidupan dipenuhi kepalsuan dan dusta. Di manapun berada, kejujuran harus di atas segalanya.
Ada sebuah kisah tentang kejujuran pada masa khalifah Umar, suatu hari ia melakukan perjalanan bersama Khalifah Umar bin Khathab dari Madinah ke Mekah. Di tengah jalan mereka berjumpa dengan seorang anak gembala yang tampak sibuk mengurus kambing-kambingnya. Seketika itu muncul keinginan Khalifah untuk menguji kejujuran si gembala. Kata Khalifah Umar, "Wahai gembala, juallah kepadaku seekor kambingmu." "Aku hanya seorang budak, tidak berhak menjualnya," jawab si gembala. "Katakan saja nanti kepada tuanmu, satu ekor kambingmu dimakan serigala," lanjut Khalifah. Kemudian si gembala menjawab dengan sebuah pertanyaan, "Lalu, di mana Allah?"
Khalifah Umar tertegun karena jawaban itu. Sambil meneteskan air mata ia pun berkata, "Kalimat 'di mana Allah' itu telah memerdekakan kamu di dunia ini, semoga dengan kalimat ini pula akan memerdekakan kamu di akhirat kelak." Kisah di atas merupakan gambaran pribadi yang jujur, menjalankan kewajiban dengan disiplin yang kuat, tidak akan melakukan kebohongan walau diiming-imingi dengan keuntungan materi.
Kaum muslimin yang berbahagia,
Islam menganjurkan berlaku jujur bagi setiap orang apa pun profesinya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Nabi Muhammad saw menegaskan, "Berlaku jujurlah, karena sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan sesungguhnya kejujuran itu menuntun ke surga. Dan jauhilah dusta, karena dusta itu menyeret kepada dosa dan kemungkaran, dan sesungguhnya dosa itu menuntun ke neraka." (HR Bukhari).
Berlaku jujur memang sulit manakala ia berbenturan dengan kepentingan-kepentingan tertentu yang bersifat duniawi. Orang rela mengorbankan kejujurannya demi kepentingan materi, pangkat, jabatan dan semacamnya. Yang tergambar dalam pikirannya bahwa dengan banyaknya materi yang dia miliki segera akan dihormati orang banyak, dengan ketinggian jabatan dan kedudukan yang dia sandang serta merta mendapatkan penghargaan dan prestise di masyarakat.
Dari sini maka muncullah spekulasi kebohongan untuk maksud asal bapak senang, menghalalkan segala cara, menumpuk kekayaan di atas keprihatinan orang lain, tidak peduli akan terjadinya kesenjangan sosial, dan meningkatnya angka kemiskinan. Alhasil, kebohongan demi kebohongan dengan mudah ia lakukan demi kesenangan dan kenikmatan sesaat
Sesungguhnya orang yang telah mengenal kejujuran dan penetapan janji pasti akan cinta kepadanya serta mencintai perilakunya. Apabila ia seorang yang alim, mereka akan mengambil manfaat ilmunya serta menghormati. Namun, apabila kejujuran telah lenyap dari diri seseorang, maka akan timbullah kemunafikan, penipuan, pengkhianatan, dan kemudian menyalahi janji.
Allah SWT telah memperingatkan hamba-hamba-Nya akan akibat dari kebohongan. Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat Qaaf :18
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya :
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”.
Serta dalam sabda Rasulullah SAW juga dijelaskan bahwa kebohongan itu adalah termasuk salah satu dari sifat orang munafiq yaitu, jika dipercaya ia khianat, jika berkata ia dusta, dan jika berjanji ia mengingari. Beliaupun juga mendorong untuk melakukan kejujuran dan memperingatkan untuk menjauhi kedustaan.
Kaum muslimin yang kami hormati,
Oleh karena itu marilah kita selalu bertaqwa kepada Allah dan senantiasa menetapi kejujuran. Karena kejujuranlah kunci segala amal kebaikan dan jalan menuju keridlaaan Allah SWT dan menuju ke surga-Nya. Dan marilah kita selalu menjauhi kebohongan, karena kebohonganlah kunci segala kejahatan dan jalan menuju kemurkaan Allah dan kearah neraka.
Kami berharap mudah-mudahan Allah memberikan kita petunjuk untuk melaksanakan perintahnya dan melaksanakan kebaikan sesuai dengan syariat. Mudah-mudahan Allah menjadikan hari-hari kita penuh dengan amal shalih yang akan membawa kita kepada kebahagiaan dan ketenangan memberikan hidayah pada segala urusan kita, khususnya dalam menjaga lisan kita dan memberikan petunjuk kepada kita semua dalam menapaki jalannya yang lurus, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang tersesat. Amin...
Demikian yang dapat saya sampaikan, apabila ada kekurangan serta tutur kata yang kurang berkenan dihati Bapak Ibu sekalian, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya,
العفومنكم
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI



  1. PENDAHULUAN
Komunikasi merupakan hal yang sangat fundamental dalam kehidupan. Peristiwa komunikasi bisa terjadi dimana-mana. Misalnya komunikasi antar manusia dan lain-lain. Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia yang lainnya. Ia ingin mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Rasa ingin tahuu itu memaksa manusia untuk berkomunikasi. Tanpa komunikasi, tidak mungkin terbentuk suatu masyarakat. Sebaliknya tanpa masyarakat, manusia tidak mugkin dapat mengembangkan komunikasi.
Berkomunikasi dengan baik akan memberi pengaruh terhadap truktur keseimbangan seseorang dalam bermasyarakat, apakah ia seorang dokter, dosen, manager dan sebagainya. Komunikasi akan efektif apabila terjadi pemahaman yang sama dan pihak lain terangsang untuk berpikir atau melakukan sesuatu.[1]
Untuk mengenal lebih jauh, mengenai komunikasi, maka pemakalah akan mengurangi. Sedikit mengenai hal tersebut khususnya mengenai prinsip-prinsip komunikasi.

  1. RUMUSAN MASALAH
 Dalam rumusan masalah ini pemakalah akan membahas mengenai, Apa saja prinsip-prinsip komunikasi itu?

  1. PEMBAHASAN
Prinsip-prinsip komunikasi
Pada dasarnya, prinsip-prinsip komunikasi seperti halnya fungsi dan definisi komunikasi, mempunyai uraian yang beragam sesuai dangan konsep yang di kembagkan oleh masing-masing pakar komunikasi. William B. Gudykunst dan Young Yun Kim menyebutnya Asumsi-asumsi komunikasi sedangkan Larry A. Samovar, Sarah Trenholm, dan arthur Jansen menyebutnya karakteristik-karakteristik komunikasi. Prinsip-prinsip komunikasi pada dasarnya mirip penjabaran lebih jauh dari definisi atau hakikat komunikasi.
Prinsip-prinsip komunikasi diantaranya yaitu :[2]
1.         Komunikasi adalah suatu proses simbolik
Salah satu kebutuhan pokok manusia, seperti yang di katakan Susanne K.Langer adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Lambang atau simbol adalah sesuatu yang di gunakan untuk menunjukan sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang.
Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku non verbal dan objek yang maknanya di sepakati bersama. Misal, memasang bendera di halaman rumah untuk menyatakan kehormatan atau kecintaan kepada negara. Lambang adalah salah satu kategori tanda.
Hubungan antara tanda dan objek dapat juga di presentasikan oleh icon dan indeks, namun ikon dan indeks tidak memerlukan kesepakatan.
Ikon adalah suatu benda fisik (dua ata tiga dimensi) yang menyerupai apa yang di presentasikannya. Contoh patung Soekarno adalah ikon Soekarno. Indek adalah suatu tanda yang secara alamiah merepresentasikan objek lainnya.
Indeks muncul berdasarkan hubungan antara sebab dan akibat yang punya kedekatan eksistensi. Misalnya awan gelap dalah indeks hujan yang akan turun, sedangkan asap merupakan indeks api.

2.         Setiap Perilaku Mempunyai Potensi Komunikasi
Setiap orang bebas menilai, pada saat orang tersebut tidak bermaksud mengkomunikasikan sesuatu tetapi di maknai oleh orang lain maka orang tersebut sudah terlibat dalam proses berkomunikasi. Gerak tubuh, ekspresi wajah (komunikasi non verbal) seseorang dapat di maknai oleh orang lain menjadi suatu stimulus. Sehingga kita tidak dapat berkomunikasi.
Kita selalu berkomunikasi bahkan ketika kita berfikir bahwa kita tidak sedang berkomunikasi atau tak ingin berkomunikasi. Bahkan diampun bisa berarti sesuatu, akan tetapi itu tidak berarti bahwa semua bahwa semua perilaku adalah komunikasi.
Komunikasi dapat tercipta ketika seseorang memberi makna pada perilaku orang lai atau diriny sendiri. Misalnya seorag mahasiswa duduk paling belakang di kelas dengan wajah tanpa ekspresindan tatapan kosong. Meskipun ia berkata bahwa ia sedang tidak berkomunikasi dengan dosen atau mahasiswa lain tetapi dari perilaku mahasiswa tersebut jelas-jelas tersirat bahwa dia tidak tertarik dengan materi di kelas, karena itu ia melamun atau kelas segera bubar.

3.         Komunikasi Punya Dimensi Isi Dan Hubungan
Setiap pesan komunikasi dimensi isi dimana dari dimensi isi tersebut, kita bisa memprediksi dimensi hubungan yang ada diantara pihak-pihak yang meakukan proses komunikasi. Percakapan diantara dua sahabat, antara dosen dan mahasiswa di kelas berbeda memiliki dimensi isi yang berbeda.
Dimensi isi (verbal)menunjukan muatan (isi)komunikasi, yaitu apa yang di katakan. Sedangkan dimensi hubungan (non verbal), menunjukan bagaimana cara mengtakanya yang juga mengisyaratkan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan. Oleh karena itu, isi yang sam bisa bermakna berbeda bila di sampaikan dengan cara yang berbeda. Misalnya seorang dosen pada mahasiswanya “temui saya sesudah kelas bubar”. Dengan “tolong nanti sehabis kuliah kita ketemu di ruang dosen”.
Isinya sama tetapi dari cara penyampaianya yang berbeda. Bisa menghasilkan makna yang berbeda. Yang pertma mungkin karena di ucapkan dengan nada tinggi kita bisa menebak apa yang akan terjadi nanti, mungkin mahasiswa akan kena marah.[3]

4.         Komunikasi Berlangsung Dalam Berbagai Tingkat Kesengajaan
Komunikasi dilakukan dengan berbagai tingat kesengajaan, dari komunikasi yang tidak di sengaja sama sekali (misalnya ketika kita melamun sementara orang memperhatikan kita) hingga komunikasi yang benar-benar di rencanakan dan di dasari (ketika seseorang menyampaikan pidato).
Kesengajaan bukanlah syarat untuk terjadinya komunikasi. Meskipun kita sama sekali tidak bermaksud menyampaikan pesan kepada orang lain, perilaku kita potensial untuk di tafsirkan orang lain.
Kita tidak dapat mengendalikan orang lain untuk menafsirkan atau tidak menafsirkan perilaku kita.

5.         Komunikasi Terjadi Dalam Konteks Ruang Dan Waktu
Makna ruang bergantung pada konteks fisik/ruang, wakktu, sosial dan spikologis. Topik-topik yang lazim di percakapkan di rumah, tempat kerja, atau tempat hiburan seperti “lelucon”, acara televisi, bisnis terasa kurang sopan bila di kemukakan di masjid.
Waktu juga mempengaruhi makna terhadap suatu pesan. Dering telpon pada tengah malam akan di persepsikan lain bila di bandingkan dengan dering telpon pada siang hari. Kehadiran orang lain,sebgai konteks sosial yang akan mempengaruhi orang-orang yang berkomunikasi. Misalnya, dua orang yang sedang berkonflik akan merasa canggung bila tidak ada orang sama sekali di dekat mereka. Namun hubungan mereka akan sedikit mencair bila satu atau beberapa orang di antara mereka.

6.         Komunikasi Melibatkan Prediksi Peserta Komunikasi
Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga terikat oleh aturan atau tata krama, artinya, orang-orang memilih strategi tertentu berdasarkan bagaimana orang yang menerima pesan akan merespon jika kita tersenyum maka kita dapat memprediksi bahwa pihak penerima akan membalas dengan senyuman, jika kita menyapa seeorang maka orang tersebut akan membalas sapaan kita. Prediksi seperti itu akan membuat seseorang menjadi tenang dalam melakukan proses komunikasi.[4]

7.         Komunikasi Itu Bersifat Sistemik
Mengacu pada tubuh manusia yang dapat di pandang sebagai suatu sistem, setidaknya terdapat dua sistem dasar yang bekerja dalam proses transaksi komunikasi, yaitu sistem internal dan sistem eksternal.
Sistem Internal adalah seluruh sistem nilai yang di bawa oleh seorang individu ketika ia memasuki suatu situasi komunikasi . Sistem Internal mengandung semua unsur yang membentuk individu yang unik ( kepribadian, Intelegensi, pengetauan, agama dll ) yang pada dasarnya tersembunyi .
Sistem Eksternal adalah terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan diluar individu , termasuk kata-kata yang ia pilih untuk berbicara, 1 syarat fisik peserta komunikasi. Kegaduhan disekitarnya, penataan ruangan, dll.
8.         Semakin Mirip Latar Belakang Sosial Budaya Semakin Efektiflah komunikasi
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan para peserta komunikasi.Misalnya seorang pedagang buku yang datang ke rumah kita di anggap telah melakukan komunikasi efektif apabila kita membeli buku yang di tawarkan.Artinya,si pedagan terpenuhi harapanya karena telah memperoleh buku sesuai dengan keinginannya.
Adanya kesamaan-kesamaan dalam hal tertentu seperti tingkat pendidikan, agama, etnis, suku bangsa atau tingkat sosial ekonomi akan mendorong orang-orang untuk saling tertarik da pada gilirannya semua ini mendorong pada komunikasi yang efektif.

9.         Komunikasi Bersifat Nonsekuensial
Meskipun komunikasi bersifat linier / satu arah, akan tetapi sebenarnya komunikasi dala bentuk dasarnya (komunikasi tatap muka) bersifat dua arah.
Ketika seseorang berbicara kepada orang lainnya, atau kepada sekelompok orang (misal waktu, kuliah atau rapat), sebenarnya komunikasi berlangsung dua arah. Orang-orang yang kita angga sebagai pendengar atau pemberi pesan pada saat yang sama, yaitu melalui perilaku non-verbal mereka, misalnya lewat anggukan kepala tanda setuju/mengerti, kening berkerut tanda mereka bingung dll.[5]

10.     Komunikasi Bersifat Prosesual, Dinamis, dan Transaksional
Seperti juga waktu dan eksistensi, komunikasi tidak mempunyai akhir, melainkan merupakan proses yang sinambung. Komunikasi bersifat dinamis dan transaksional adalah bahwa para peserta komunikasi (berubah dari sekedar berubah pengetahuan hingga beerubah pandangan dunia dan perilakunya). Misalnya seserang dari beragama hindu menjadi kristen atau muslim.
Implisit dalam proses komunikasi adalah proses penyandian (enconding) dan penyandian balik (deconding). Kedua proses itu meskipun secara teoritis dapat dipisahkan, sebenarnya terjadi serempak, bukan bergantian. Keserempakan inilah yang menandai komunikasi sebagai transaksi, jadi kita tidak menyadi pesan lalu menunggu untuk menyandi balik respon orang lain. Kita melakukan kedua kegiatan itu pada saat yang hampir bersamaan ketika kita berkomunikasi.[6]

11.     Komunikasi Berifat Irreversible
Dalam komunikasi, sekali kita mengirimkan pesan, maka kita tidak dapat mengendalikan pengaruh pesan tersebutbagi khalayak, apalagi menghilangkan efek pesan tersebut sama sekali.
Ketika kita menyampaikan suatu pesan atau kata-kata yang menyinggung perasaan orang lain, maka orang tersebut bisa saja memaafkan kita, akan tetapi ia tidak akan lupa dengan apa yang telah kita ucapkan.

12.     Komunikasi Bukan Obat Mujarab Untuk Menyelesaikan Beerbagai Masalah
Banyak persoalan dan konflik antar manusia, disebabkan oleh masalah komunikasi. Akan tetapi komunikasi bukanlah obat mujarab / panasea untuk menyelesaikan persoalan itu, misalnya, meskipun pemerintah berusaha untuk membangun komunikasi yang baik dan efektif dengan masyarakat Aceh dan Papua. Akan tetapi usaha membangun komunikasi efektif itu tida aka berhasil selama pemerintah pusat di Jakartatidak memperlakukan masyarakat di daerah itu secara adil dalam bidang ekonomi.

  1. KESIMPULAN
 Dari uraian yang telah dijabarkan iatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi telah menjadi bagian terpenting dri kehidupan manusia. Tanpa adanya komunikasi maka antara orang satu lainnya tidak akan dapat saling berinteraksi, manusia sejak dilahirkannya. Dalam berkomunikasi dengan lingkungannya. Dalam berkomunikasi dengan lingkungannya. Dalam berkomunikasi diperluakn adanya komunikasi agar proses baik dan tertib

  1. PENUTUP
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini bisa menambah khasanah keilmuan dan kemanfaatan bagi kita semua. Dalam makalah ini pastilah masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saran dan kritik kami harapkan demi kesempurnaan dalam pemuatan makalah ini dan selanjutnya.
Mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan baik dalam sistematika penulisan, isi pembahasan maupun dalam hal penyampaian materi. Semoga kesalahan-kesalahan itu menjadikan pembelajaran bagi kita untuk yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung, PT. Remaja Rosydakarya, 2005.
Http://Adiel87.Blogspot.Com/2009/11/Prinsip-Komunikasi.Html, Diunduh pada Hari Senin 19/09/2011, pukul 16.34
Riswandi, Ilmu Komuikasi, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009.


[2]. Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung, PT. Remaja Rosydakarya, 2005. Hal : 83
[4]. Op.Cit, Hal: 101-104
[5]. Riswandi, Ilmu Komuikasi, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009, Hal : 31-32
[6]. Op. Cit hal : 109-112