Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Maret 2015

Pondok Pesantren Bali Bina Insani Yayasan La-Royba

OBJEK KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL) MAKRO
PONDOK PESANTREN BALI BINA INSANI YAYASAN LA-ROYBA

A.           JATIDIRI, VISI, MISI, DAN SASARAN
*   Jatidiri
Pondok Pesantren Bali Bina Insani mengadopsi sistem yang ada di Pondok Pesantren Darusssalam, Gontor, Darunnajah Jakarta yaitu mencoba menerapkan komunikasi sehari-hari dengan menggunakan bahasa arab dan inggris yang dibimbing langsung oleh Ustad dan Ustazah yang menguasai bidang ini. Sistem ini diterapkan agar para santri dapat mengkaji literatur klasik (kitab kuning) serta mempersiapkan mereka agar mampu memasuki pangsa kerja sebagai guide di bidang kepariwisataan mengingat Bali merupakan primadona wisatawan manca negara
Pondok Pesantren Bali Bina Insani terletak di Desa Meliling Kecamatan Kerambitan Kabupaten Tabanan (11 km barat Kota Tabanan, +  32 km dari kota Denpasar). Pondok Pesantren ini berdiri di  areal seluas 5700m2, dan berada di tengah-tengah masyarakat Hindu yang taat melaksanakan ajaran-ajaran agamanya.
*   Visi
1.        Menjadikan Pondok Pesantren sebagai sumber ilmu pengetahuan, keterampilan dan peradaban dalam rangka mengabdi pada agama, bangsa dan negara.
*   Misi
1.        Membentuk SDM yang unggul, berkualitas, berbudi luhur, berbadan sehat dan berpengetahuan luas.
2.        Mewujudkan Islam sebagai Rahmatan Lil `Alamin dalam berbagai aktivitas pengabdian kemasyarakatan.
3.        Bersahabat dengan semua umat tanpa melihat sekat baik etnis, geografis dan ideologis.
4.        Menyiapkan warga negara yang berkepribadian Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
*   Sasaran
1.        Meningkatkan pemberdayaan umat manusia dalam bidang keagamaan.
2.        Menjadikan santri dan santriwati yang berkualitas yang berasaskan agama islam.
3.        Santri dan santriwati dapat menguasai bekal-bekal dasar keulamaan / kecendikiaan, kepemimpinan dan keguruan.
4.        Menciptakan kemauan dan kemampuan santri dan santriwati untuk mengembangkan bekal-bekal dasar tersebut sampai ke tingkat yang paling maksimal secara mandiri.
5.        Menjadikan Santri dan santriwati siap mengamalkannya di tengah-tengah masyarakat secara benar dan proporsional.

B.            SEJARAH BERDIRINYA PONDOK PESANTREN BALI BINA INSANI YAYASAN LA-ROYBA
Cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Bali Bina Insani tanggal 27 Oktober 1996 adalah berawal dari pendirian Pondok Yatama tanggal 27 Oktober 1991. Sejak pemuda bernama Ketut Imaduddin Djamal masuk di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathon Seloong Lombok Timur tahun 1968, jiwa pondok pesantren mulai tersemai. Hal ini lebih terasa sejak belajar di Pondok Pesantren Assyafi`iyah Jakarta  tahun 1977 dan sering silaturahmi ke Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta. Setelah menyelesaikan kuliah di Fakultas  Syari`ah Syarif Hidayatullah tahun1983 dan mulai bertugas di Pengadilan Agama Denpasar tahun 1984, suatu saat bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang Sumbawa. Saat itulah betul-betul tersentuh dengan kehidupan pondok pesantren yang terasa damai, sederhana dan sangat bersahabat.
Ketika keberadaan dan keadaan Umat Islam di Bali mulai banyak tahu melalui ceramah dan khutbah-khutbah serta kunjungan sosial, dimana kondisinya jauh dari harapan, jumlahnya hanya 6,17%, ekonomi memprihatinkan, bertempat tinggal di pesisir pantai / pedalaman, pendidikan jauh terbelakang dan belum ada pondok pesantren yang refresentatif. Keinginan mendirikan Pondok Pesantren di Denpasar dengan  latar belakang di atas terbentur  tidak adanya lahan, sehingga keinginan menggebu ini dimulai di Desa Pegayaman dengan mendirikan Pondok Pesantren Al-Iman pada tanggal 24 Oktober 1988 di atas tanah wakaf Bapak Said Djamaludin seluas 5000 m2 dan diresmikan oleh Bapak H. Habib Adnan Ketua MUI Bali. Pondok pesantren ini kurang berkembang meskipun berada pada miliu yang 100% beragama Islam, karena daerahnya terisolir, jauh dari perkotaan dan kurangnya kesadaran masyarakat tentang arti penting pendidikan. Kondisi ini tidak  menyurutkan tekad untuk  mencarikan solusi terhadap problem umat di atas melalui lembaga pendidikan pondok pesantren.
Pada saat ceramah di pengajian Masyarakat Sulawesi Selatan Monang Maning Denpasar, seorang peserta pengajian bernama Hj. Sopiah Dewa Pere bertanya dan mengajak mendirikan panti asuhan dengan menyiapkan rumahnya sendiri di Sembung Gede Tabanan sebagai asrama, serta kesanggupan untuk mencarikan kebutuhan sehari-hari santri. Peluang emas ini tidak disia-siakan untuk mendirikan Pondok Pesantren meskipun letaknya di Tabanan, (sebuah kabupaten terdekat dengan Denpasar).
Maka diresmikanlah lembaga pendidikan yang bernama Pondok Yatama tangal 27 Oktober 1991 oleh Bapak H. Zayadi, mantan Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja Bali, dengan didampingi Bapak Kepala Kantor Wilayah Sosial, (alm) Bapak Said Djamaludin serta umat Islam lainya. Rekomendasi pendiriannya dari Bupati Tabanan baru keluar tanggal 7 Juni 1996 no. 451.44 / 2609 / 505. Periode awal ini santrinya 7 orang anak yatim laki-laki, (Roy Teguh Musa dkk) dengan seorang Ustad dari Darunnajah yaitu Yuli Saiful Bahri.
Agar keberadaan pondok sesuai dengan peraturan yang berlaku, didirikanlah badan hukum dengan nama Yayasan La-Royba pada tanggal 30 April 1992 dengan nama Amir Syarifuddin, SH. Dan memperoleh izin Kepala Kantor Wilayah  Departemen Sosial Bali no. 118 / BBS / 05 / XI / 92 dengan ketua Drs. H. Kt. Imaduddin Djamal, SH. sekretaris Hj. Sofiah Dewa Pere, bendahara Dewi Yana Robi,  penasehat di antaranya Prof. KH. Ali Yafie dan Ny. Hj. Ratna Maida Hasjim Ning.
Pendirian madrasah Aliyah Bali Bina Insani tanggal 16 Juli 2000 dengan kepala sekolah Bapak Karen, S.Pd, adalah merupakan jawaban atas tamatnya satu kelas MTs. Bali Bina Insani untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Setelah MTs dan MA berdiri maka berturut-turut dapat bantuan 6 bangunan kelas dari Departemen Pendidikan Nasional senilai Rp. 180.000.000, Rp. 65.000.000, melalui Bapak H. Baedhowi, Sekretaris Jendral Departemen Pendidikan Nasional yang sempat berkunjung ke pondok pada saat melakukan sosialisasi tentang Komite Sekolah. Ruang belajar MA dibantu oleh banyak pihak diantaranya satu ruangan dari Bapak H. Isfan Fajar Satrio, putra Wakil Presiden, Bapak Tri Sutrisno. Satu ruangan dari Rotary Club Nusa Dua. Dapur umum dari Ibu Hj. Siti Hardianti Indra Rukmana, putri presiden RI Bapak H. Soeharto. Kebutuhan mes dan tempat tinggal guru yang sudah berkeluarga dibangun oleh Ibu Hj. Ny. Soebechan Soekandar senilai Rp. 125.000.000. Bangunan lab MA senilai Rp. 80.000.000 serta ruang belajar MTs, dibantu oleh Departemen Agama.
Pembenahan pada kurikulum terimbangi dengan penugasan Ustad Yuli Saiful Bahri dkk. dari Darunnajah, Ustadzah Darmawati dkk. dari Al-Ikhlas, Ustad Anton dkk. dari Al-Iman Gontor, Ustad Fauzi dkk. dari Nahdlatul Wathan Pancor, Ustad Turoichan dkk dari Lirboyo dan lain lain. Mereka adalah sebagai pengasuh yang siap 24 jam membimbing dan mengajar para santriwan / santriwati dengan nilai-nilai agama khususnya bahasa Arab atau Inggris. Pendidik dari luar dengan merekrut guru-guru dari sekolah umum negeri sebagai tenaga honorer di MTs dan MA tanpa melihat ideologinya dengan tujuan agar pengalaman dan  pencapaian kurikulum terdapat keseimbangan.
Berikut ini adalah pembahasan mengenai:
ü  Agenda kegiatan santri dan guru                           : terlampir.
ü  Foto kegiatan KKL                                                            : terlampir.
C.           STRUKTUR ORGANISASI PONDOK PESANTREN BALI BINA INSANI YAYASAN LA-ROYBA

STRUKTUR ORGANISASI
PONDOK PESANTREN BALI BINA INSANI YAYASAN LA-ROYBA

Ketua Umum                          :H. Muh. Hasan Aeni
Ketua I                                   : H. Sutio
Ketua II                                  : Ir. Supriyo Guntoro
Ketua III                                : Arief Wibawa
Sekretaris Umum                    : Yuli Saiful Bahri, SPd.I
Sekretaris I                             : Neny Triana
Sekretaris II                            : Hj. Ety Supriyati, BA
Bendahara Umum                  : Dra. Hj. Dewi Sinaryati
Bendahara I                            : Hj. Inayati
Bendahara II                          : Nadzifatun Nufus

D.           ANALISIS SWOT TERHADAP PONDOK PESANTREN BALI BINA INSANI YAYASAN LA- ROYBA
2.             Kekuatan
Kesuksesan di bidang dakwah, diikuti pula dengan kesuksesan di bidang pendidikan, bidang administrasi dan organisasi.
3.             Kelemahan
Dengan sistem pendidikan pondok yang ketat menjadikan para santri tidak begitu banyak mengenal lingkungan diluar pondok( kurangnya pengalaman dari luar ), selain itu juga tempatnya tergolong sulit untuk dijangkau.
4.             Peluang
Yayasan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi mereka yang ingin masuk menjadi pengurus yayasan dengan melakukan kompetisi dan penyeleksian.
5.             Tantangan
Banyaknya berdirinya  instansi- instansi pendidikan umum yang lebih modern ( fasilitas pendidikan yang lebih elit) sehingga, membuat banyak orang lebih tertarik menempuh pendidikan di instansi umum daripada   di  instansi pondok pesantren

A.           PERKEMBANGAN DAN PROSPEK PONDOK PESANTREN BALI BINA INSANI YAYASAN LA- ROYBA SEBAGAI LEMBAGA DAKWAH
Perkembangan PP BALI BINA INSANI  tidak hanya di bidang dakwah tetapi juga dibidang pendidikan yaitu:
1.    Pada bulan Juni 1996, Yayasan membuka sebuah lembaga pendidikan Madrasah Tsanawiyah Bali Bina Insani dengan murid sejumlah 24 murid putra & putri, sedangkan jumlah santri secara keseluruhan berjumlah 62 anak.
2.    Pada tahun 1997 Yayasan bekerjasama dengan Departemen Tenaga Kerja Kabupaten Tabanan menyelenggarakan Kursus Latihan Kerja montir sepeda motor yang diikuti 16 orang santri sebagai peserta.
3.    Pada tahun 1998, kursus montir dengan peserta 18 orang santri.
4.    Pada tahun ini 1999, Yayasan mengadakan kerjasama dengan Depnaker Tabanan menyelenggarakan Kursus Latihan Kerja Menjahit yang diikuti 17 peserta dari santriwati.
5.    Sebagai tindak lanjut kelangsungan belajar anak MTs Bali Bina Insani , mulai tahun ajaran 2000 – 2001 Yayasan La – Royba mendirikan Madrasah Alyah (MA) Bali Bina Insani.
6.    Beberapa perlombaan keagamaan dan kesenian yang diikuti santri La Royba adalah sebagai berikut :
a.         Tahun 1998 mengikuti STQ tingkat propinsi Bali di Kabupaten Karang Asem dan meraih juara II tingkat anak-anak.
b.        Tahun 1998 mengikuti lomba kejuaraan Karate tingkat propinsi Bali di Denpasar, meraih juara II & III putri tingkat pemula.
c.         Tahun 1997 mengikuti berbagai perlombaan & kejuaraan bidang agama yang diselenggarakan oleh Ikatan Remaja Masjid Bali di Denpasar dengan perolehan peringkat juara I & II.
d.        Tanggal 9 – 13 September 1999 mengikuti lomba koreografi Gedung Kesenian Jakarta Awards II 1999 di Jakarta, memperoleh juara harapan.
e.         Tahun 2000 mengikuti lomba Hadrah Tk.Propinsi di Karangasem dan meraih juara III.
f.         Tahun 2007, juara III lomba pidato bahasa Arab pada lomba (Pospeda) Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren di Kalimantan.
g.        Tahun 2010, juara umum Pospeda tingkat Kabupaten Tabanan (silat, hampir di semua kelas putra-putri, pidato bahasa Arab dan Inggris putra-putri).
h.        Tahun 2010, juara I silat kelas C, juara II pidato bahasa Arab dan Inggris pada Pospeda tingkat Provinsi di Karang Asem.
i.          Tahun 2010, mengikuti lomba silat kelas C pada even POSPENAS V di Surabaya.
j.          Tahun 2010, juara I Jambore dan Olimpiade tingkat MA sekabupaten Tabanan untuk lomba pidato bahasa Arab dan Inggris putra-putri, Matematika, IPS, Agama, KIR Sosial Budaya, Vokal putri.
k.        Tahun 2010, pada lomba Jambore dan Olimpiade MA tingkat Provinsi, juara I pidato bahasa Inggis putra, bahasa Arab putri, juara II pidato bahasa Arab putra dan Matematika, juara III pidato bahasa Inggris putri dan Olimpiade Agama di Sanur.    
l.          Tahun 2011, pada lomba Jambore dan Olimpiade MA tingkat kabupaten, juara umum (tenis meja putra putri, kaligrafi, fahmil Qur’an, puisi kandungan Al Qur’an).
7.    Data santri Pondok Pesantren Bali Bina Insani Yayasan Sosial La - Royba pada tahun pelajaran 2000 - 2001 :
a.         Jumlah santri di dalam asrama 102 anak ( 49 putra & 53 putri ) yang duduk di bangku :
1.    SD berjumlah 9 anak (5 putra, 4 putri).
2.    MTs Bali Bina Insani , berjumlah 62 anak ( 27 putra, 35 putri ).
3.    MA Bali Bina Insani , berjumlah 18 anak ( 9 putra , 9 putri )
4.    SMU 5 anak ( 3 putra, 2 putri).
b.        Pondok Pesantren Bali Bina Insani telah mengkader 5 santri dan 11 santriwati di : Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, Darul Muttaqin Bogor, Al Amin Perinduan Madura.
c.         Aktifitas rutin  Pondok Pesantren Bali Bina Insani :
1.        Mengaji Al - Qur’an .
2.        Tahfidzul Juz ‘Amma
3.        Belajar keagamaan di Madrasah Diniah.
4.        Kajian kitab klasik
5.        Penerapan bahasa Arab / bahasa Inggris.
6.        Muhadloroh.
7.        Senam kesehatan jasmani (senam santri dan atau senam Pramuka).
8.        Bela diri (Karate dan Silat).
9.        Pramuka.
10.    Qasidah, Hadlrah & Gambus.
11.    Kebersihan asrama & lingkungan sekitarnya.
12.    Sholat jama’ah.
13.    Organisasi santri & alumni La - Royba (OSALA)
14.    Majalah Dinding Kasasi (Kreasi Anak Santri)
15.    Volley
16.    Futsal
17.    Atletik
18.    Catur
d.        Jumlah tenaga pengajar 24 orang (6 Laki – laki ,18 perempuan) dengan tenaga kerumah tanggaan 2 orang perempuan.
e.         Struktur Kepengurusan Yayasan Sosial La Royba.
Susunan Program Pengajaran (kurikulum) MTs dan MA.

RS Unisma Malang




OBJEK KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL) MIKRO
RUMAH SAKIT ISLAM MALANG “UNISMA”

A.           JATIDIRI, VISI, MISI, DAN SASARAN
*   Jatidiri
RSI Malang pada tanggal 13 Oktober 2008 telah mendapat ijin perpanjangan penyelengaraan II (operasional) Rumah Sakit melalui SK Dirjen Bina Pelayanan Medik Depkes RI Nomor : HK.07.06/ III/ 3668/ 2008 dan dalam rangka pelaksanaan Permenkes Nomor 159b/ Menkes/ Per/ II/ 1988 tentang Rumah Sakit maka RSI Malang harus melaksanakan akreditasi rumah sakit tingkat dasar (5 pelayanan) yang telah menjadi persyaratan dalam perpanjangan ijin operasional tersebut.
Dibawah periode kepemimpinan dr. V.H. Pratomo dalam masa jabatannya yang kedua, RSI Malang berhasil meraih status terakreditasi penuh tingkat dasar pada tanggal 29 Desember 2009 dan dari jumlah Tempat Tidur (TT) yang ada (77 + 4 Perinatal), RSI Malang terus berupaya mengembangkan sarana/prasarana pelayanan dengan merencanakan penambahan TT menjadi 100 Tempat Tidur ditahun 2010 ini sesuai dengan syarat kualifikasi Rumah Sakit Tipe C
*   Visi
1.        Menjadi Rumah Sakit Islami yang Terbaik
*   Misi
1.        Memberikan Pelayanan Prima Paripurna Berdasarkan Etika dan Disiplin Profesi yang Dijiwai Nilai Ke-Islaman;
2.        Mengembangkan Profesionalisme Sumber Daya Manusia melalui Pendidikan, Pelatihan dan Penelitian;
3.        Meningkatkan Pendapatan Rumah Sakit dan Karyawannya;
4.        Mengembangkan Jaringan Kerjasama dengan Rumah Sakit Pendidikan Regional dan Internasional

*   Sasaran
1.        Meningkatkan Mutu Pelayanan Yang Islami;
2.        Tersusunnya Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3.        Meningkatkan Mutu dan Profesionalisme Sumber Daya Manusia;
4.        Meningkatkan Pendapatan Rumah Sakit dengan Pengelolaan yang Efisien dan Efektif;
5.        Terbentuknya Jaringan Kerjasama dengan Institusi Terkait;
6.        Terwujudnya Rumah Sakit Pendidikan pada Tahun 2025.

B.            SEJARAH BERDIRINYA RUMAH SAKIT ISLAM MALANG “UNISMA”
Landasan berdirinya Rumah Sakit Islam Malang berasal dari pemikiran Pengurus Yayasan Universitas Islam Malang antara lain Bapak K. H. Usman Mansyur, Bapak Prof. K. H. Tholchah Hasan dan segenap alim ulama di wilayah Malang Raya atas tuntutan akan kebutuhan jasa pelayanan kesehatan bagi warga Islam pada umumnya dan khususnya warga Nahdliyin.
Pada tanggal 28 Agustus 1994 Rumah Sakit Islam Malang telah dibuka secara resmi oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (saat itu) Bapak K. H. Abdurachman Wahid (Gus Dur), dengan lokasi yang berpindah ke sebelah timur Kantor Pusat Universitas Islam Malang yang lokasinya lebih luas dan representatif yaitu bekas sekolah PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri).
Beroperasinya rumah sakit telah mendapatkan izin dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tanggal 10 Juni 1998, dan saat ini memasuki perpanjangan ijin kedua nomor : HK.07.06/ III/ 3668/ 2008 tertanggal 13 Oktober 2008.
Dengan berkembangnya rumah sakit, maka perlu didukung dan dibukanya Fakultas Kedokteran yang erat hubungannya menjadikan status Rumah Sakit Islam Malang ditingkatkan fungsinya menjadi Rumah Sakit Type B Pendidikan.
Demi kelangsungan dan berkembangnya rumah sakit, pada tahun 2003 sampai tahun 2008, pihak manajemen rumah sakit sedang berbenah diri terus menerus, secara bertahap, efektif dan efisien dengan melakukan perbaikan-perbaikan administrasi, sistem, sumber daya manusia, sarana dan prasarana sesuai dengan standarisasi rumah sakit yang ditentukan oleh pemerintah. Dengan harapan di tahun 2009 kedepan menjadikan rumah sakit dapat terakreditasi dalam 5 (lima) pelayanan..

C.           STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT ISLAM MALANG “UNISMA”
STRUKTUR ORGANISASI
RUMAH SAKIT ISLAM MALANG “UNISMA”

Ketua Pengurus Harian                         : Drs. H. Chozin Ismail
Sekretaris                                               : H. A. Zawawi Mochtar, SH.
Direktur                                                 : dr. V. H. Pratomo
Wakil Direktur Umum                           : Drs. H. Suhadi
Wakil Direktur Pelayanan                      : dr. H. Tri Wahyu Sarwiyata, M.Kes


D.           ANALISIS SWOT TERHADAP RSI UNISMA MALANG
1.             Kekuatan
Dengan berkembangnya zaman yang serba modern ini bukan hanya pelayanan kesehatan saja yang perlu diperhatikan melainkan juga pelayanan rohani atau psikis juga memerlukan pelayanan yang khusus. Salah satunya dalam Rumah Sakit Islam UNISMA ini sudah menyediakan kedua pelayanan tersebut. Untuk kedepannya agar bisa lebih di tingkatkan lagi terutama dalam bidang pemberian pelayanan konseling rohani.
2.             Kelemahan
Kurangnya sarjana- sarjana muda dibidang keperawatan rohani menjadikannya pelayanan keperawatan rohani dalam Rumah Sakit ini hanya dipegang oleh satu orang saja sehingga terkadang dalam proses pemberian bimbingannya kurang efektif.
3.             Peluang
Banyak didikan dari jurusan bimbingan dan penyuluhan islam terutama yang konsentrasinya dibidang keperawatan rohani, yang apabila dibina dengan baik di fakultas, peluang akan semakin terbuka lebar untuk bisa masuk ke RSI UNISMA MALANG ini sebagai pegawai keperawatan rohani. Untuk sekarang yang dibutuhkan oleh RSI UNISMA MALANG pada saat ini adalah tenaga yang professional khususnya dibidang keperawatan rohani, karena di RSI UNISMA  itu sendiri sedang kekurangan tenaga professional dalam bidang keperawatan rohani.
4.             Tantangan
-       Banyaknya Rumah Sakit yang didirikan yang lebih elit dan pelayanannya lebih bagus dan banyak menggunakan alat- alat pelayanan  kesehatan yang internasional merupakan tantangan yang tidak bisa diremehkan.
-       Dalam proses pemberian layanan Bimbingaan Rohani dalam Rumah Sakit Islam UNISMA ini, tidak semua pasien mau di berikan bimbingan

E.            PERKEMBANGAN DAN PROSPEK TVRI SURABAYA SEBAGAI LEMBAGA DAKWAH
Perkembangan ekonomi dan pendidikan khususnya dalam 30 tahun terakhir ini telah membawa pengaruh bagi munculnya perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat bangsa Indonesia, termasuk di kalangan Muslim.
Sejak akhir tahun 70-an dan awal tahun 80-an hal-hal yang tampak adalah:
-                 Meningkatnya jumlah penerbitan literatur keagamaan serta berkembangnya sarana untuk artikulasi kegiatan keilmuan agama.
-                 Sedikitnya siaran-siaran yang bermakna Islam kecuali pada saat bulan Ramadhan.
-                 Maraknya aktivitas-aktivitas keagamaan di kampus-kampus di sekolah-sekolah dan sebagainya.
TVRI memiliki peran yang cukup besar sebagai lembaga dakwah, antara lain:
Memperdalam struktur sistem institusi dakwah dengan mengembangkan dan mengelaborasi perencanaan dan pelaksanaan dakwah yang selama ini baru mulai digagaskan terdiri dari 4 lembaga yaitu:
-                 Institusi pengembang pemahaman agama, sebagai pengimbang informasi/pemahaman agama, yang terwujud dalam lembaga studi/pendidikan dan lembaga penelitian.
-                 Institusi pengembang dakwah, yang berperan menerjemahkan informasi generik dari institusi pertama menjadi “resep” yang dapat langsung dimanfaatkan untuk tujuan dakwah secara umum.
-                 Institusi dakwah umum, yang menyelenggarakan/menyampaikan dakwah bagi pemenuhan kebutuhan pemirsanya.
-                 Institusi pemuka agama, yang menjadi penghubung dan pemelihara komunikasi dari bagi masyarakat yang mencurahkan perhatiannya pada masalah dakwah.