Selasa, 23 Juni 2015
Senin, 22 Juni 2015
Sedekah Anak Penjual Koran
Suatu malam setelah maghrib, saya mengendarai kendaraan ke
rumah. Tiba-tiba rasa nyeri menyerang hingga saya menepikan kendaraan…
Berhenti sejenak menunggu rasa nyeri berkurang, saya berusaha
mengalihkan pikiran dengan melihat sekeliling.
Tiba-tiba kaca mobil saya diketuk seorang anak. “Bu… Ibu mau
parkir? Saya bantuin untuk parkir ya….” katanya.
“Belum sekarang, saya mau istirahat dulu,” jawabku.
“Kalau gitu Ibu punya uang 2000?” tanya anak itu.
Karena saya sedang tidak mau diganggu, saya buru-buru
serahkan uang itu. Saya pikir anak ini mungkin cuma mau minta-minta.
Saya amati anak itu. Dia mendekati tukang gorengan lalu
membeli beberapa. Kemudian gorengan itu dia berikan pada sesosok tua yang duduk
di bawah tiang listrik.
Ketika dia melewati samping kendaraan saya, saya buka kaca
dan memanggilnya. “Eh… nak .. . Sini… Itu siapa?” tanya saya.
“Gak tau bu… Bapak-bapak tua… Saya juga baru saja ketemu”
jawabnya.
“Loh, tadi kamu minta uang ke saya beli gorengan kenapa
dikasihin ke bapak itu?”
“Oh… Saya tadi duduk di situ, ngobrol sama bapak itu. Bapak
itu katanya puasa… Tadi saya lihat buka puasanya cuma minum…. Katanya uangnya
habis. Hari ini saya nggak jualan koran... Tanggal merah bu.. . Jadi nggak
punya uang.. . Saya ada 1000, kalau beli cuma 1 kasihan nggak kenyang. Makanya
saya minta ibu 2000. Biar dapat 3.... Ibu mau parkir sekarang? Saya bantuin
parkir ya bu… Ibu kan udah bayar. Kalau saya sebenarnya bukan tukang parkir,”
katanya tertawa sambil garuk garuk pipinya.
Saya terdiam. Tadi saya pikir anak ini pengemis seperti
anak-anak yang biasa mangkal di jalan. Ternyata saya salah besar. “Terus uang
kamu habis dong ?” tanya saya.
“Iya bu… Nggak apa-apa… Besok bisa jualan koran… InsyaAllah
ada rejekinya lagi.”
“Kalau gitu Ibu ganti yaa uang kamu … Sekalian buat jajan…”
kataku meraih dompet di jok samping.
“Nggak usah, Bu… Jangan… Ibu saya sebetulnya melarang saya
minta-minta. Makanya saya tawarin Ibu parkirin mobil Ibu. Soalnya tadi saya
kasihan bapak itu aja. Cuma saya bener-bener nggak punya uang,” cerocosnya
lagi.
“Eh Ibu minta maaf yaa tadi salah sangka sama kamu… ibu kira
kamu tukang minta-minta,” kata saya merasa bersalah.
“Saya yang minta maaf, Bu… Saya jadi minta uang duluan sama
Ibu.. Padahal saya belum kerja.”
“Sama – samalah… Ini ambil uangnya… Ini kamu nggak minta, Ibu
yang beri,” kataku.
“Nggak, Bu.. Makasih…. Ibu mau parkir sekarang?” tanyanya
lagi.
“Nggak ..… Ibu nggak usah dibantu parkir,” kataku.
“Beneran, Bu? Soalnya saya mau jemput adik saya ngaji dulu
bu… Takut nangis kalau kelamaan telat jemputnya…”
“Udah, sana jemput aja adiknya…” kataku tersenyum.
“Makasih yaa, Bu…” katanya setengah berlari. Meninggalkan
saya yang termangu.
Saya menoleh ke tiang listrik, bapak tua itu sudah pergi.
Saya Iihat dari spion mobil, anak itu berjalan setengah berlari.
Sahabat, di luar sana banyak orang tidak seberuntung kita,
tapi mereka masih memikirkan sesama, masih berusaha bersedekah dan sangat yakin
akan jaminan rezeki.
Terima kasih untuk pelajaran hari ini, Nak… Semoga hidupmu
berlimpah berkah dan rezeki.
Saya starter kendaraan dan melaju pelan-pelan menuju rumah.
Ramadhan Bulan Barakah... waktu yang tepat perbanyak
sedekah...Bismillah...
Membuat Welcome Note Pada Blog
Selamat pagi kawan,,, pagi ini disela-sela tugas kantor, aku
merasa suntuk sekali, nahh,, untuk mengsiasati rasa suntukku ini,, aku tengok
deh My Blog n coret-coret tulisan sekalian berbagi ilmu pengetahuan kepada kalian. hmmm lagi pula,,, g bagus kan,, kalo ilmu dipendam sendiriii
Oke,, kali ini aku akan memberikan tutorial kepada kalian tentang
cara membuat Welcome Note Pada blog kamu,,
Untuk langkah awalnya,, seperti ini niihh
- Login Blogspot
- Kemudian klik Layout >> Tambahkan Gadget >> pilih Javascript/HTML
- Copy dan Pastekan kode dibawah ini kedalam kolom HTML tadi
<div class="widget"><h4></h4> <div
class="textwidget"><p style="text-align:
justify;"><script type="text/javascript">
/***********************************************
* Display time of last visit script- by JavaScriptKit.com
* This notice MUST stay intact for use
* Visit JavaScript Kit at http://www.javascriptkit.com/ for this script and more
***********************************************/
var days = 730; // days until cookie expires = 2 years.
var lastvisit=new Object();
var firstvisitmsg="Ini adalah kunjungan pertama anda di blog Catatan Syifa Selamat Datang!";
lastvisit.subsequentvisitmsg="Terima kasih karena sudah melawatkan blog ini. Kunjungan terakhir anda pada <b>[displaydate]</b>";
lastvisit.getCookie=function(Name){
var re=new RegExp(Name+"=[^;]+", "i");
if (document.cookie.match(re))
return document.cookie.match(re)[0].split("=")[1];
return'';
}
lastvisit.setCookie=function(name, value, days){
var expireDate = new Date();
var expstring=expireDate.setDate(expireDate.getDate()+parseInt(days));
document.cookie = name+"="+value+"; expires="+expireDate.toGMTString()+"; path=/";
}
lastvisit.showmessage = function() {
var wh = new Date();
if (lastvisit.getCookie("visitc") == "") {
lastvisit.setCookie("visitc", wh, days);
document.write(firstvisitmsg);
}
else {
var lv = lastvisit.getCookie("visitc");
var lvp = Date.parse(lv);
var now = new Date();
now.setTime(lvp);
var day = new Array("Sun", "Mon", "Tues", "Wed", "Thur", "Fri", "Sat");
var month = new Array ("Jan", "Feb", "Mar", "Apr", "May", "Jun", "Jul", "Aug", "Sep", "Oct", "Nov", "Dec");
var dd = now.getDate();
var dy = now.getDay();
dy = day[dy];
var mn = now.getMonth();
mn = month[mn];
yy = now.getFullYear();
var hh = now.getHours();
var ampm = "AM";
if (hh >= 12) {ampm = "PM"}
if (hh >12){hh = hh - 12};
if (hh == 0) {hh = 12}
if (hh < 10) {hh = "0" + hh};
var mins = now.getMinutes();
if (mins < 10) {mins = "0"+ mins}
var secs = now.getSeconds();
if (secs < 10) {secs = "0" + secs}
var dispDate = dy + ", " + mn + " " + dd + ", " + yy + " " + hh + ":" + mins + ":" + secs + " " + ampm
document.write(lastvisit.subsequentvisitmsg.replace("\[displaydate\]", dispDate))
}
lastvisit.setCookie("visitc", wh, days);
}
lastvisit.showmessage();
</script><br />
<script>
function GetCookie (name) {
var arg = name + "=";
var alen = arg.length;
var clen = document.cookie.length;
var i = 0;
while (i < clen) {
var j = i + alen;
if (document.cookie.substring(i, j) == arg)
return getCookieVal (j);
i = document.cookie.indexOf(" ", i) + 1;
if (i == 0) break;
}
return null;
}
function SetCookie (name, value) {
var argv = SetCookie.arguments;
var argc = SetCookie.arguments.length;
var expires = (argc > 2) ? argv[2] : null;
var path = (argc > 3) ? argv[3] : null;
var domain = (argc > 4) ? argv[4] : null;
var secure = (argc > 5) ? argv[5] : false;
document.cookie = name + "=" + escape (value) +
((expires == null) ? "" : ("; expires=" + expires.toGMTString())) +
((path == null) ? "" : ("; path=" + path)) +
((domain == null) ? "" : ("; domain=" + domain)) +
((secure == true) ? "; secure" : "");
}
function DeleteCookie (name) {
var exp = new Date();
exp.setTime (exp.getTime() - 1);
var cval = GetCookie (name);
document.cookie = name + "=" + cval + "; expires=" + exp.toGMTString();
}
var expDays = 30;
var exp = new Date();
exp.setTime(exp.getTime() + (expDays*24*60*60*1000));
function amt(){
var count = GetCookie('count')
if(count == null) {
SetCookie('count','1')
return 1
}
else {
var newcount = parseInt(count) + 1;
DeleteCookie('count')
SetCookie('count',newcount,exp)
return count
}
}
function getCookieVal(offset) {
var endstr = document.cookie.indexOf (";", offset);
if (endstr == -1)
endstr = document.cookie.length;
return unescape(document.cookie.substring(offset, endstr));
}
</script>
<script>
document.write("Anda pernah singgah di blog CATATAN SYIFA sebanyak <b>" + amt() + "</b> kali. Terima kasih. Datang lagi ya...")
</script></p>
</div></div>
/***********************************************
* Display time of last visit script- by JavaScriptKit.com
* This notice MUST stay intact for use
* Visit JavaScript Kit at http://www.javascriptkit.com/ for this script and more
***********************************************/
var days = 730; // days until cookie expires = 2 years.
var lastvisit=new Object();
var firstvisitmsg="Ini adalah kunjungan pertama anda di blog Catatan Syifa Selamat Datang!";
lastvisit.subsequentvisitmsg="Terima kasih karena sudah melawatkan blog ini. Kunjungan terakhir anda pada <b>[displaydate]</b>";
lastvisit.getCookie=function(Name){
var re=new RegExp(Name+"=[^;]+", "i");
if (document.cookie.match(re))
return document.cookie.match(re)[0].split("=")[1];
return'';
}
lastvisit.setCookie=function(name, value, days){
var expireDate = new Date();
var expstring=expireDate.setDate(expireDate.getDate()+parseInt(days));
document.cookie = name+"="+value+"; expires="+expireDate.toGMTString()+"; path=/";
}
lastvisit.showmessage = function() {
var wh = new Date();
if (lastvisit.getCookie("visitc") == "") {
lastvisit.setCookie("visitc", wh, days);
document.write(firstvisitmsg);
}
else {
var lv = lastvisit.getCookie("visitc");
var lvp = Date.parse(lv);
var now = new Date();
now.setTime(lvp);
var day = new Array("Sun", "Mon", "Tues", "Wed", "Thur", "Fri", "Sat");
var month = new Array ("Jan", "Feb", "Mar", "Apr", "May", "Jun", "Jul", "Aug", "Sep", "Oct", "Nov", "Dec");
var dd = now.getDate();
var dy = now.getDay();
dy = day[dy];
var mn = now.getMonth();
mn = month[mn];
yy = now.getFullYear();
var hh = now.getHours();
var ampm = "AM";
if (hh >= 12) {ampm = "PM"}
if (hh >12){hh = hh - 12};
if (hh == 0) {hh = 12}
if (hh < 10) {hh = "0" + hh};
var mins = now.getMinutes();
if (mins < 10) {mins = "0"+ mins}
var secs = now.getSeconds();
if (secs < 10) {secs = "0" + secs}
var dispDate = dy + ", " + mn + " " + dd + ", " + yy + " " + hh + ":" + mins + ":" + secs + " " + ampm
document.write(lastvisit.subsequentvisitmsg.replace("\[displaydate\]", dispDate))
}
lastvisit.setCookie("visitc", wh, days);
}
lastvisit.showmessage();
</script><br />
<script>
function GetCookie (name) {
var arg = name + "=";
var alen = arg.length;
var clen = document.cookie.length;
var i = 0;
while (i < clen) {
var j = i + alen;
if (document.cookie.substring(i, j) == arg)
return getCookieVal (j);
i = document.cookie.indexOf(" ", i) + 1;
if (i == 0) break;
}
return null;
}
function SetCookie (name, value) {
var argv = SetCookie.arguments;
var argc = SetCookie.arguments.length;
var expires = (argc > 2) ? argv[2] : null;
var path = (argc > 3) ? argv[3] : null;
var domain = (argc > 4) ? argv[4] : null;
var secure = (argc > 5) ? argv[5] : false;
document.cookie = name + "=" + escape (value) +
((expires == null) ? "" : ("; expires=" + expires.toGMTString())) +
((path == null) ? "" : ("; path=" + path)) +
((domain == null) ? "" : ("; domain=" + domain)) +
((secure == true) ? "; secure" : "");
}
function DeleteCookie (name) {
var exp = new Date();
exp.setTime (exp.getTime() - 1);
var cval = GetCookie (name);
document.cookie = name + "=" + cval + "; expires=" + exp.toGMTString();
}
var expDays = 30;
var exp = new Date();
exp.setTime(exp.getTime() + (expDays*24*60*60*1000));
function amt(){
var count = GetCookie('count')
if(count == null) {
SetCookie('count','1')
return 1
}
else {
var newcount = parseInt(count) + 1;
DeleteCookie('count')
SetCookie('count',newcount,exp)
return count
}
}
function getCookieVal(offset) {
var endstr = document.cookie.indexOf (";", offset);
if (endstr == -1)
endstr = document.cookie.length;
return unescape(document.cookie.substring(offset, endstr));
}
</script>
<script>
document.write("Anda pernah singgah di blog CATATAN SYIFA sebanyak <b>" + amt() + "</b> kali. Terima kasih. Datang lagi ya...")
</script></p>
</div></div>
Selamat Mencoba (^_*)
Kamis, 18 Juni 2015
Ketika Cinta Harus Bersabar Part 1
Ya
Rabbi, entah siapa yang tadi aku lihat. Malaikatkah? atau mungkin seorang alim
yang menjelma seperti Malaikat? Entahlah. Tapi yang pasti, hatiku langsung
berdetak kencang tatkala kedua mataku menatap tak sengaja wajah putih bersih
nan berwibawa itu yang sempat melintasi penglihatanku. Sampai sekarang, sosok
‘malaikat’ itu masih melekat dalam benakku.
Sore
tadi, Mama mengajakku ke rumah salah seorang sahabatnya yang tengah sakit.
Awalnya aku menolak karena memang editan tulisanku belum selesai aku revisi
kembali. Besok lusa harus segera aku serahkan ke pihak penerbit untuk
dipelajari dan untuk selanjutnya di terbitkan menjadi sebuah buku novel yang
siap untuk dibaca.
Aku
seorang penulis novel yang memang belum terlalu termasyhur seperti
Habiburrahman El Shirazy, Azimah Rahayu, Asma Nadia, Helvy Tiana Rossa, dan
masih banyak nama-nama penulis lainnya yang menjadi penulis idolaku sekaligus
menjadi inspirasiku dalam menulis. Dua novelku sudah beredar di pasaran. Yang
pertama berjudul Kerlingan Hati dan yang kedua berjudul Episode Jingga.
Alhamdulillah kedua novelku itu laris manis di pasaran. Dan sekarang, aku
sedang menggarap novelku yang ketiga yang judulnya masih aku rahasiakan. Tapi
lagi-lagi karena mamaku tersayang mengajakku pergi menjenguk temannya yang
sedang sakit, jadilah aku merubah semua jadwalku duduk didepan komputer untuk
merevisi ulang novelku, untuk ikut mama pergi menjenguk temannya. Mau bilang
apa lagi? toh kalau mama sudah beralasan,”Dinda, nanti kalau sampai penyakit
mama kumat di jalan, bagaimana?”. Hfh…tak tega rasanya kalau sampai penyakit
asma mama kumat ditengah jalan. Semoga saja tidak.
Aku
berangkat bersama mama tepat setelah shalat Ashar kami tunaikan. Aku tidak
pernah tahu teman mama yang satu ini. Mama bilang dia itu bernama Ibu Rahayu.
Teman mama semasa kuliah dulu. Aku hanya mendengarkan mama bercerita banyak
tentang sahabatnya itu yang katanya lumayan cantik dan mempunyai seorang suami
yang juga tampan dan seorang anak laki-laki yang menurut mama sangat cocok
untuk dijadikan seorang menantu.
”Bu Rahayu itu
punya seorang anak laki-laki. Mama lupa namanya siapa. Tapi yang pasti dia itu
cocoklah untuk dijadikan seorang menantu”
Huuffhh…aku
hanya menghela nafas mendengar celotehan mama yang menurutku hanya sebuah
pengharapan seorang ibu yang menginginkan anak perempuannya segera menikah.
Menikah.
Semua gadis yang sudah cukup umur juga pasti berharap ingin segera mempunyai
pendamping hidup yang sesuai dengan kriterianya. Ya…minimal seseorang yang
baik, sholeh, bertanggung jawab, dan dapat menerima keadaan diri apa adanya.
Tapi kalau memang belum jodoh mau diapakan lagi? Aku hanya berharap seorang yang
sholeh yang bersedia menjadi suamiku.
Tepat
di sebuah rumah bernuansa minimalis kami turun dari mobil yang aku kendarai
sendiri. Diluar sudah ada seorang perempuan paruh baya yang membukakan pintu
rumah untuk kami. Ibu itu lalu menyuruh kami masuk karena dia sudah tahu bahwa
kami akan datang untuk menjenguk Ibu Rahayu. Sekantong buah-buahan aku serahkan
padanya. Diapun segera mengantar kami memasuki kamar Bu Rahayu.
Di
dalam aku melihat seorang ibu yang sudah sedikit tua dengan wajah pucat pasinya
berbaring diatas tempat tidur berselimutkan kain yang sangat tebal. Kepalanya
ia tutup dengan sebuah kerudung pendek. Dialah Bu Rahayu. Senyumnya segera
menyambut kami ketika ia lihat wajah kami nampak dari balik pintu. Mama dan Bu
Rahayu segera berpelukan tatkala keduanya dipertemukan kembali setelah beberapa
tahun tidak bertemu. Tangis kebahagiaanpun membuncah disana. Aku hanya bisa
menatap mereka dengan penuh haru. Beberapa saat lamanya aku menjadi orang yang
terasing didalam kamar itu.
Tiba-tiba
Bu Rahayu menegurku dengan sapaan yang lembut. Tegurannya itu membuat aku
tersadar dari lamunanku.
”Ini pasti Dinda
ya?” Tanya Bu Rahayu.
”I..iya bu..”
Jawabku tergagap. Aku segera meraih tangannya dan kucium. Aku kembali tersenyum
padanya.
”Sudah besar ya?
Berapa usia kamu sekarang?” Tanya Bu Rahayu lagi yang membuat aku ragu-ragu
untuk menjawabnya.
”Ehm...27 tahun
bu” Sahutku tanpa semangat yang membara. Entah mengapa setiap kali ada
seseorang yang menanyakan berapa usiaku, aku selalu menjawabnya tanpa mempunyai
semangat. Mungkin karena sampai sekarang aku belum juga menikah.
”Tahu darimana
Lis kalau aku sakit?” Tanya Bu Rahayu pada Mama. Aku menarik kursi yang
disediakan oleh ibu tua tadi sambil mendengar jawaban Mama.
”Dari Rudi.
Kebetulan kemarin aku bertemu dia di pasar. Dan dia bilang katanya kamu sakit.
Memang kamu sakit apa sih Yu?” Mama balik bertanya.
”Tahulah Lis. Aku
juga bingung sendiri dengan sakitku” Jawab Bu Rahayu dengan mata berkaca-kaca.
Sesaat kutangkap sepertinya ada yang mengganjal dalam hatinya. Diapun mulai
bercerita.
”Beberapa hari
yang lalu ada yang menawarkan seorang muslimah padaku untuk dijadikan istri
oleh anakku....”
”Oh iya, mana
anakmu itu? Kok tidak kelihatan? Siapa namanya?” Cerocos Mama memotong
pembicaraan Bu Rahayu. Bu Rahayu menghela nafasnya dan menjawab dengan nada
datar. Aku memperhatikannya dengan seksama.
”Anakku itu
bernama Yusuf Abdul Fattah. Masa kau lupa sih Lis?”
”Oh iya!
Maaf..maaf, namanya juga orang tua. Lanjutkan Yu!” Kata Mama seraya menyuruh Bu
Rahayu untuk melanjutkan ceritanya.
”Aku sempat
melihat gadis itu. Wajahnya cantik, perilakunya baik, ahklaknya pun bagus. Dia
berjilbab, sama seperti Dinda” Lanjut Bu Rahayu sambil melirik kearahku ketika
dia menyebutkan namaku. Aku hanya tersenyum dan meneruskan mendengar cerita Bu
Rahayu.
”Setelah aku
tawarkan pada si Yusuf, lha kok dia malah menolak. Katanya, kurang cocok dengan
seleranya. Asal kamu tahu saja ya Lis, ini untuk yang kelima kalinya dia
menolak untuk dinikahkan. Kamu tahu sendiri, usianya Yusuf itu tidak beda jauh
dengan usianya Dinda. Apalagi coba yang mau dicari dengan umur segitu kalau
bukan istri. Aku sampai stres memikirkannya dan akhirnya aku jatuh sakit. Nah
itulah penyebab sakitku saat ini” Ucap Bu Rahayu menutup ceritanya. Sesekali
kulihat dia membenarkan posisi duduknya yang bersandar pada sebuah bantal.
”Sekarang dia
kemana bu?” Tanyaku tiba-tiba saja. Aku juga kaget. Kenapa aku menanyakan hal
itu? Aku sendiri tidak tahu alasannya.
”Sekarang dia sedang
menebus obat ibu di apotik. Perginya sih dari tadi, mungkin sebentar lagi juga
pulang” Jawab Bu Rahayu tenang. Suasana kembali lagi seperti semula. Mama dan
Bu Rahayu kembali larut dalam perbincangan masa lalunya, sedangkan aku hanya
dapat mendengarkan mereka berbincang tentang suatu hal yang baru bagiku.
Beberapa
saat lamanya waktu berjalan, tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara seorang
laki-laki mengucapkan salam dan membuka pintu secara perlahan. Aku, Mama, dan
Bu Rahayu pun segera mengarahkan pandangan kami ke arah suara itu.
Perlahan-lahan pintu itu terbuka dan...Subhanallah! Seorang laki-laki tampan
dengan kemeja dan celana bahannya datang dengan membawa sekantong kecil obat.
Aku
berdiri dari dudukku tanpa melepaskan pandanganku dari laki-laki itu. Sesaat
lamanya aku menatap dia yang sedang mencium tangan Bu Rahayu kemudian
mengatupkan kedua tangannya pada Mama. Aku seperti terbius oleh keindahan
zahirnya. Aku tersadar tatkala dia mengucapkan salam padaku dan mengatupkan
kedua tangannya juga padaku.
”Assalamu’alaikum”
Ucapnya lembut sambil menunduk.
”Wa..wa’alaikummussalam”
Sahutku dengan sedikit tergagap. Aku segera menundukkan pandanganku dari
wajahnya dan kutarik nafasku secara perlahan. Entah mengapa saat ini jantungku
berdebar-debar.
Kudengar
Bu Rahayu memperkenalkan laki-laki itu sebagai anaknya yang bernama Yusuf Abdul
Fattah dan dia juga memperkenalkan Mama sebagai sahabat lamanya dan juga
memperkenalkan aku pada Yusuf. Sesaat aku mencuri pandang padanya.
Astaghfirullah! Ucapku dalam hati. Kembali kutarik nafasku dalam-dalam.
Tak
berapa lama, laki-laki yang kukenal bernama Yusuf itu meminta diri untuk keluar
dari kamar. Aku tak berani lagi menatap wajahnya. Takut dosa. Aku hanya dapat
mendengar suaranya yang dengan lembut mengucapkan salam. Aku menjawab salamnya
dengan pelan. Tak berapa lama, Mama dan Bu Rahayu mengganti topik pembicaraan
mereka dengan masalah Yusuf.
Aku
berusaha mengendalikan perasaanku. Entah mengapa, seperti ada yang berbeda
dalam hatiku setelah aku melihat Yusuf tadi. Aku jadi teringat perkataan Mama.
”Bu Rahayu itu
punya seorang anak laki-laki. Mama lupa namanya siapa. Tapi yang pasti dia itu
cocoklah untuk dijadikan seorang menantu”.
Apa
mungkin bisa ya? Pikirku sudah mulai ngaco kemana-mana.
Sepanjang
perjalanan pulang aku tak bisa memfokuskan fikiranku. Sesampainya dirumah aku
sudah tak memikirkan editan tulisanku di komputer. Yang menjadi pikiranku
sekarang adalah, apakah sosok ”malaikat” itu yang menjadi harapan Mama?
Oh....Rabbi, selamatkan aku dari penyakit hati ini. Teriakku dalam hati.
Adzan
Maghrib sudah berkumandang. Aku segera bergegas ke kamar mandi untuk mengambil
air wudhu.
Langganan:
Postingan (Atom)








