Selasa, 23 Juni 2015

Senin, 22 Juni 2015

Sedekah Anak Penjual Koran



Suatu malam setelah maghrib, saya mengendarai kendaraan ke rumah. Tiba-tiba rasa nyeri menyerang hingga saya menepikan kendaraan…
Berhenti sejenak menunggu rasa nyeri berkurang, saya berusaha mengalihkan pikiran dengan melihat sekeliling.
Tiba-tiba kaca mobil saya diketuk seorang anak. “Bu… Ibu mau parkir? Saya bantuin untuk parkir ya….” katanya.
“Belum sekarang, saya mau istirahat dulu,” jawabku.
“Kalau gitu Ibu punya uang 2000?” tanya anak itu.
Karena saya sedang tidak mau diganggu, saya buru-buru serahkan uang itu. Saya pikir anak ini mungkin cuma mau minta-minta.
Saya amati anak itu. Dia mendekati tukang gorengan lalu membeli beberapa. Kemudian gorengan itu dia berikan pada sesosok tua yang duduk di bawah tiang listrik.
Ketika dia melewati samping kendaraan saya, saya buka kaca dan memanggilnya. “Eh… nak .. . Sini… Itu siapa?” tanya saya.
“Gak tau bu… Bapak-bapak tua… Saya juga baru saja ketemu” jawabnya.
“Loh, tadi kamu minta uang ke saya beli gorengan kenapa dikasihin ke bapak itu?”
“Oh… Saya tadi duduk di situ, ngobrol sama bapak itu. Bapak itu katanya puasa… Tadi saya lihat buka puasanya cuma minum…. Katanya uangnya habis. Hari ini saya nggak jualan koran... Tanggal merah bu.. . Jadi nggak punya uang.. . Saya ada 1000, kalau beli cuma 1 kasihan nggak kenyang. Makanya saya minta ibu 2000. Biar dapat 3.... Ibu mau parkir sekarang? Saya bantuin parkir ya bu… Ibu kan udah bayar. Kalau saya sebenarnya bukan tukang parkir,” katanya tertawa sambil garuk garuk pipinya.
Saya terdiam. Tadi saya pikir anak ini pengemis seperti anak-anak yang biasa mangkal di jalan. Ternyata saya salah besar. “Terus uang kamu habis dong ?” tanya saya.
“Iya bu… Nggak apa-apa… Besok bisa jualan koran… InsyaAllah ada rejekinya lagi.”
“Kalau gitu Ibu ganti yaa uang kamu … Sekalian buat jajan…” kataku meraih dompet di jok samping.
“Nggak usah, Bu… Jangan… Ibu saya sebetulnya melarang saya minta-minta. Makanya saya tawarin Ibu parkirin mobil Ibu. Soalnya tadi saya kasihan bapak itu aja. Cuma saya bener-bener nggak punya uang,” cerocosnya lagi.
“Eh Ibu minta maaf yaa tadi salah sangka sama kamu… ibu kira kamu tukang minta-minta,” kata saya merasa bersalah.
“Saya yang minta maaf, Bu… Saya jadi minta uang duluan sama Ibu.. Padahal saya belum kerja.”
“Sama – samalah… Ini ambil uangnya… Ini kamu nggak minta, Ibu yang beri,” kataku.
“Nggak, Bu.. Makasih…. Ibu mau parkir sekarang?” tanyanya lagi.
“Nggak ..… Ibu nggak usah dibantu parkir,” kataku.
“Beneran, Bu? Soalnya saya mau jemput adik saya ngaji dulu bu… Takut nangis kalau kelamaan telat jemputnya…”
“Udah, sana jemput aja adiknya…” kataku tersenyum.
“Makasih yaa, Bu…” katanya setengah berlari. Meninggalkan saya yang termangu.
Saya menoleh ke tiang listrik, bapak tua itu sudah pergi. Saya Iihat dari spion mobil, anak itu berjalan setengah berlari.
Sahabat, di luar sana banyak orang tidak seberuntung kita, tapi mereka masih memikirkan sesama, masih berusaha bersedekah dan sangat yakin akan jaminan rezeki.
Terima kasih untuk pelajaran hari ini, Nak… Semoga hidupmu berlimpah berkah dan rezeki.
Saya starter kendaraan dan melaju pelan-pelan menuju rumah.
Ramadhan Bulan Barakah... waktu yang tepat perbanyak sedekah...Bismillah...

Membuat Welcome Note Pada Blog

Selamat pagi kawan,,, pagi ini disela-sela tugas kantor, aku merasa suntuk sekali, nahh,, untuk mengsiasati rasa suntukku ini,, aku tengok deh My Blog n coret-coret tulisan sekalian berbagi ilmu pengetahuan kepada kalian. hmmm lagi pula,,, g bagus kan,, kalo ilmu dipendam sendiriii

Oke,, kali ini aku akan memberikan tutorial kepada kalian tentang cara membuat Welcome Note Pada blog kamu,,
Untuk langkah awalnya,, seperti ini niihh
  1. Login Blogspot
  2. Kemudian klik Layout  >>  Tambahkan Gadget >> pilih Javascript/HTML
  3. Copy dan Pastekan kode dibawah ini kedalam kolom HTML tadi


<div class="widget"><h4></h4> <div class="textwidget"><p style="text-align: justify;"><script type="text/javascript">
/***********************************************
* Display time of last visit script- by JavaScriptKit.com
* This notice MUST stay intact for use
* Visit JavaScript Kit at http://www.javascriptkit.com/ for this script and more
***********************************************/

var days = 730; // days until cookie expires = 2 years.
var lastvisit=new Object();
var firstvisitmsg="Ini adalah kunjungan pertama anda di blog Catatan Syifa Selamat Datang!";
lastvisit.subsequentvisitmsg="Terima kasih karena sudah melawatkan blog ini. Kunjungan terakhir anda pada <b>[displaydate]</b>";

lastvisit.getCookie=function(Name){
var re=new RegExp(Name+"=[^;]+", "i");
if (document.cookie.match(re))
return document.cookie.match(re)[0].split("=")[1];
return'';
}

lastvisit.setCookie=function(name, value, days){
var expireDate = new Date();

var expstring=expireDate.setDate(expireDate.getDate()+parseInt(days));
document.cookie = name+"="+value+"; expires="+expireDate.toGMTString()+"; path=/";
}

lastvisit.showmessage = function() {
var wh = new Date();
if (lastvisit.getCookie("visitc") == "") {
lastvisit.setCookie("visitc", wh, days);
document.write(firstvisitmsg);
}

else {
var lv = lastvisit.getCookie("visitc");
var lvp = Date.parse(lv);
var now = new Date();
now.setTime(lvp);
var day = new Array("Sun", "Mon", "Tues", "Wed", "Thur", "Fri", "Sat");
var month = new Array ("Jan", "Feb", "Mar", "Apr", "May", "Jun", "Jul", "Aug", "Sep", "Oct", "Nov", "Dec");
var dd = now.getDate();
var dy = now.getDay();
dy = day[dy];
var mn = now.getMonth();
mn = month[mn];
yy = now.getFullYear();
var hh = now.getHours();
var ampm = "AM";
if (hh >= 12) {ampm = "PM"}
if (hh >12){hh = hh - 12};
if (hh == 0) {hh = 12}
if (hh < 10) {hh = "0" + hh};
var mins = now.getMinutes();
if (mins < 10) {mins = "0"+ mins}
var secs = now.getSeconds();
if (secs < 10) {secs = "0" + secs}
var dispDate = dy + ", " + mn + " " + dd + ", " + yy + " " + hh + ":" + mins + ":" + secs + " " + ampm
document.write(lastvisit.subsequentvisitmsg.replace("\[displaydate\]", dispDate))
}

lastvisit.setCookie("visitc", wh, days);

}

lastvisit.showmessage();


</script><br />
<script>
function GetCookie (name) {
var arg = name + "=";
var alen = arg.length;
var clen = document.cookie.length;
var i = 0;
while (i < clen) {
var j = i + alen;
if (document.cookie.substring(i, j) == arg)
return getCookieVal (j);
i = document.cookie.indexOf(" ", i) + 1;
if (i == 0) break;
}
return null;
}
function SetCookie (name, value) {
var argv = SetCookie.arguments;
var argc = SetCookie.arguments.length;
var expires = (argc > 2) ? argv[2] : null;
var path = (argc > 3) ? argv[3] : null;
var domain = (argc > 4) ? argv[4] : null;
var secure = (argc > 5) ? argv[5] : false;
document.cookie = name + "=" + escape (value) +
((expires == null) ? "" : ("; expires=" + expires.toGMTString())) +
((path == null) ? "" : ("; path=" + path)) +
((domain == null) ? "" : ("; domain=" + domain)) +
((secure == true) ? "; secure" : "");
}
function DeleteCookie (name) {
var exp = new Date();
exp.setTime (exp.getTime() - 1);
var cval = GetCookie (name);
document.cookie = name + "=" + cval + "; expires=" + exp.toGMTString();
}
var expDays = 30;
var exp = new Date();
exp.setTime(exp.getTime() + (expDays*24*60*60*1000));
function amt(){
var count = GetCookie('count')
if(count == null) {
SetCookie('count','1')
return 1
}
else {
var newcount = parseInt(count) + 1;
DeleteCookie('count')
SetCookie('count',newcount,exp)
return count
}
}
function getCookieVal(offset) {
var endstr = document.cookie.indexOf (";", offset);
if (endstr == -1)
endstr = document.cookie.length;
return unescape(document.cookie.substring(offset, endstr));
}
</script>
<script>
document.write("Anda pernah singgah di blog CATATAN SYIFA sebanyak <b>" + amt() + "</b> kali. Terima kasih. Datang lagi ya...")
</script></p>
</div></div>


      4. Pada kode diatas, tulisan yang berwarna merah,, diganti sendiri ya,,,


Selamat Mencoba (^_*)

Kamis, 18 Juni 2015

Ketika Cinta Harus Bersabar Part 1




Ya Rabbi, entah siapa yang tadi aku lihat. Malaikatkah? atau mungkin seorang alim yang menjelma seperti Malaikat? Entahlah. Tapi yang pasti, hatiku langsung berdetak kencang tatkala kedua mataku menatap tak sengaja wajah putih bersih nan berwibawa itu yang sempat melintasi penglihatanku. Sampai sekarang, sosok ‘malaikat’ itu masih melekat dalam benakku.

Sore tadi, Mama mengajakku ke rumah salah seorang sahabatnya yang tengah sakit. Awalnya aku menolak karena memang editan tulisanku belum selesai aku revisi kembali. Besok lusa harus segera aku serahkan ke pihak penerbit untuk dipelajari dan untuk selanjutnya di terbitkan menjadi sebuah buku novel yang siap untuk dibaca.

Aku seorang penulis novel yang memang belum terlalu termasyhur seperti Habiburrahman El Shirazy, Azimah Rahayu, Asma Nadia, Helvy Tiana Rossa, dan masih banyak nama-nama penulis lainnya yang menjadi penulis idolaku sekaligus menjadi inspirasiku dalam menulis. Dua novelku sudah beredar di pasaran. Yang pertama berjudul Kerlingan Hati dan yang kedua berjudul Episode Jingga. Alhamdulillah kedua novelku itu laris manis di pasaran. Dan sekarang, aku sedang menggarap novelku yang ketiga yang judulnya masih aku rahasiakan. Tapi lagi-lagi karena mamaku tersayang mengajakku pergi menjenguk temannya yang sedang sakit, jadilah aku merubah semua jadwalku duduk didepan komputer untuk merevisi ulang novelku, untuk ikut mama pergi menjenguk temannya. Mau bilang apa lagi? toh kalau mama sudah beralasan,”Dinda, nanti kalau sampai penyakit mama kumat di jalan, bagaimana?”. Hfh…tak tega rasanya kalau sampai penyakit asma mama kumat ditengah jalan. Semoga saja tidak.

Aku berangkat bersama mama tepat setelah shalat Ashar kami tunaikan. Aku tidak pernah tahu teman mama yang satu ini. Mama bilang dia itu bernama Ibu Rahayu. Teman mama semasa kuliah dulu. Aku hanya mendengarkan mama bercerita banyak tentang sahabatnya itu yang katanya lumayan cantik dan mempunyai seorang suami yang juga tampan dan seorang anak laki-laki yang menurut mama sangat cocok untuk dijadikan seorang menantu.

”Bu Rahayu itu punya seorang anak laki-laki. Mama lupa namanya siapa. Tapi yang pasti dia itu cocoklah untuk dijadikan seorang menantu”

Huuffhh…aku hanya menghela nafas mendengar celotehan mama yang menurutku hanya sebuah pengharapan seorang ibu yang menginginkan anak perempuannya segera menikah.

Menikah. Semua gadis yang sudah cukup umur juga pasti berharap ingin segera mempunyai pendamping hidup yang sesuai dengan kriterianya. Ya…minimal seseorang yang baik, sholeh, bertanggung jawab, dan dapat menerima keadaan diri apa adanya. Tapi kalau memang belum jodoh mau diapakan lagi? Aku hanya berharap seorang yang sholeh yang bersedia menjadi suamiku.

Tepat di sebuah rumah bernuansa minimalis kami turun dari mobil yang aku kendarai sendiri. Diluar sudah ada seorang perempuan paruh baya yang membukakan pintu rumah untuk kami. Ibu itu lalu menyuruh kami masuk karena dia sudah tahu bahwa kami akan datang untuk menjenguk Ibu Rahayu. Sekantong buah-buahan aku serahkan padanya. Diapun segera mengantar kami memasuki kamar Bu Rahayu.

Di dalam aku melihat seorang ibu yang sudah sedikit tua dengan wajah pucat pasinya berbaring diatas tempat tidur berselimutkan kain yang sangat tebal. Kepalanya ia tutup dengan sebuah kerudung pendek. Dialah Bu Rahayu. Senyumnya segera menyambut kami ketika ia lihat wajah kami nampak dari balik pintu. Mama dan Bu Rahayu segera berpelukan tatkala keduanya dipertemukan kembali setelah beberapa tahun tidak bertemu. Tangis kebahagiaanpun membuncah disana. Aku hanya bisa menatap mereka dengan penuh haru. Beberapa saat lamanya aku menjadi orang yang terasing didalam kamar itu.

Tiba-tiba Bu Rahayu menegurku dengan sapaan yang lembut. Tegurannya itu membuat aku tersadar dari lamunanku.

”Ini pasti Dinda ya?” Tanya Bu Rahayu.

”I..iya bu..” Jawabku tergagap. Aku segera meraih tangannya dan kucium. Aku kembali tersenyum padanya.

”Sudah besar ya? Berapa usia kamu sekarang?” Tanya Bu Rahayu lagi yang membuat aku ragu-ragu untuk menjawabnya.

”Ehm...27 tahun bu” Sahutku tanpa semangat yang membara. Entah mengapa setiap kali ada seseorang yang menanyakan berapa usiaku, aku selalu menjawabnya tanpa mempunyai semangat. Mungkin karena sampai sekarang aku belum juga menikah.

”Tahu darimana Lis kalau aku sakit?” Tanya Bu Rahayu pada Mama. Aku menarik kursi yang disediakan oleh ibu tua tadi sambil mendengar jawaban Mama.

”Dari Rudi. Kebetulan kemarin aku bertemu dia di pasar. Dan dia bilang katanya kamu sakit. Memang kamu sakit apa sih Yu?” Mama balik bertanya.

”Tahulah Lis. Aku juga bingung sendiri dengan sakitku” Jawab Bu Rahayu dengan mata berkaca-kaca. Sesaat kutangkap sepertinya ada yang mengganjal dalam hatinya. Diapun mulai bercerita.

”Beberapa hari yang lalu ada yang menawarkan seorang muslimah padaku untuk dijadikan istri oleh anakku....”

”Oh iya, mana anakmu itu? Kok tidak kelihatan? Siapa namanya?” Cerocos Mama memotong pembicaraan Bu Rahayu. Bu Rahayu menghela nafasnya dan menjawab dengan nada datar. Aku memperhatikannya dengan seksama.

”Anakku itu bernama Yusuf Abdul Fattah. Masa kau lupa sih Lis?”

”Oh iya! Maaf..maaf, namanya juga orang tua. Lanjutkan Yu!” Kata Mama seraya menyuruh Bu Rahayu untuk melanjutkan ceritanya.

”Aku sempat melihat gadis itu. Wajahnya cantik, perilakunya baik, ahklaknya pun bagus. Dia berjilbab, sama seperti Dinda” Lanjut Bu Rahayu sambil melirik kearahku ketika dia menyebutkan namaku. Aku hanya tersenyum dan meneruskan mendengar cerita Bu Rahayu.

”Setelah aku tawarkan pada si Yusuf, lha kok dia malah menolak. Katanya, kurang cocok dengan seleranya. Asal kamu tahu saja ya Lis, ini untuk yang kelima kalinya dia menolak untuk dinikahkan. Kamu tahu sendiri, usianya Yusuf itu tidak beda jauh dengan usianya Dinda. Apalagi coba yang mau dicari dengan umur segitu kalau bukan istri. Aku sampai stres memikirkannya dan akhirnya aku jatuh sakit. Nah itulah penyebab sakitku saat ini” Ucap Bu Rahayu menutup ceritanya. Sesekali kulihat dia membenarkan posisi duduknya yang bersandar pada sebuah bantal.

”Sekarang dia kemana bu?” Tanyaku tiba-tiba saja. Aku juga kaget. Kenapa aku menanyakan hal itu? Aku sendiri tidak tahu alasannya.

”Sekarang dia sedang menebus obat ibu di apotik. Perginya sih dari tadi, mungkin sebentar lagi juga pulang” Jawab Bu Rahayu tenang. Suasana kembali lagi seperti semula. Mama dan Bu Rahayu kembali larut dalam perbincangan masa lalunya, sedangkan aku hanya dapat mendengarkan mereka berbincang tentang suatu hal yang baru bagiku.

Beberapa saat lamanya waktu berjalan, tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara seorang laki-laki mengucapkan salam dan membuka pintu secara perlahan. Aku, Mama, dan Bu Rahayu pun segera mengarahkan pandangan kami ke arah suara itu. Perlahan-lahan pintu itu terbuka dan...Subhanallah! Seorang laki-laki tampan dengan kemeja dan celana bahannya datang dengan membawa sekantong kecil obat.

Aku berdiri dari dudukku tanpa melepaskan pandanganku dari laki-laki itu. Sesaat lamanya aku menatap dia yang sedang mencium tangan Bu Rahayu kemudian mengatupkan kedua tangannya pada Mama. Aku seperti terbius oleh keindahan zahirnya. Aku tersadar tatkala dia mengucapkan salam padaku dan mengatupkan kedua tangannya juga padaku.

”Assalamu’alaikum” Ucapnya lembut sambil menunduk.

”Wa..wa’alaikummussalam” Sahutku dengan sedikit tergagap. Aku segera menundukkan pandanganku dari wajahnya dan kutarik nafasku secara perlahan. Entah mengapa saat ini jantungku berdebar-debar.

Kudengar Bu Rahayu memperkenalkan laki-laki itu sebagai anaknya yang bernama Yusuf Abdul Fattah dan dia juga memperkenalkan Mama sebagai sahabat lamanya dan juga memperkenalkan aku pada Yusuf. Sesaat aku mencuri pandang padanya. Astaghfirullah! Ucapku dalam hati. Kembali kutarik nafasku dalam-dalam.

Tak berapa lama, laki-laki yang kukenal bernama Yusuf itu meminta diri untuk keluar dari kamar. Aku tak berani lagi menatap wajahnya. Takut dosa. Aku hanya dapat mendengar suaranya yang dengan lembut mengucapkan salam. Aku menjawab salamnya dengan pelan. Tak berapa lama, Mama dan Bu Rahayu mengganti topik pembicaraan mereka dengan masalah Yusuf.

Aku berusaha mengendalikan perasaanku. Entah mengapa, seperti ada yang berbeda dalam hatiku setelah aku melihat Yusuf tadi. Aku jadi teringat perkataan Mama.

”Bu Rahayu itu punya seorang anak laki-laki. Mama lupa namanya siapa. Tapi yang pasti dia itu cocoklah untuk dijadikan seorang menantu”.

Apa mungkin bisa ya? Pikirku sudah mulai ngaco kemana-mana.

Sepanjang perjalanan pulang aku tak bisa memfokuskan fikiranku. Sesampainya dirumah aku sudah tak memikirkan editan tulisanku di komputer. Yang menjadi pikiranku sekarang adalah, apakah sosok ”malaikat” itu yang menjadi harapan Mama? Oh....Rabbi, selamatkan aku dari penyakit hati ini. Teriakku dalam hati.

Adzan Maghrib sudah berkumandang. Aku segera bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

This entry was posted in